Don't Miss

Pelesiran ke Candi Bawah Daratan asal Yogyakarta

Oleh: Malinda Sari Sembiring

DSC01912Adalah Karyowinangun, seorang petani yang menemukan bongkahan batu raksasa ketika sedang mencangkul lahan miliknya. Lama ia mencangkul, makin terlihat bongkahan batu dengan ukiran-ukiran tertentu. Tak lama berselang, diketahui bongkahan-bongkahan batu layaknya puzzle raksasa ini merupakan bagian dari sebuah candi yang kemungkinan telah terkubur selama ratusan tahun.

Temuan Karyowinangun pada 1966 ini ditindaklanjuti Balai Arkeologi Yogyakarta dengan melakukan penelitian dan penggalian. Tak sia-sia, kumpulan bongkahan besar ini memberikan petunjuk bahwa pernah berdiri candi beraliran hindu di tanah berpagar batu seluas 48×50 meter persegi.

Kondisi candi tak utuh saat ditemukan, butuh 21 tahun guna merangkai kembali satu candi induk dan tiga candi pendamping. Berdasarkan ukiran yang terdapat pada bongkahan batu, candi beraliran syiwa ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 oleh Rakai Garung, seorang Raja Mataram Hindu.

Saat pertama kali mengunjungi candi yang terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta ini pada Minggu (10/2/2013), serasa hanya melihat candi setinggi kurang lebih satu meter, namun ketika berjalan memasuki areal yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta, maka akan terlihat candi setinggi 7,5 meter dengan didampingi 3 bangunan candi lainnya yang sudah tak utuh lagi.

Kawasan candi ini memang terletak 6,5 meter dari permukaan tanah sekitarnya. Berdasarkan informasi dari arsip Perpustakaan Negara Republik Indonesia yang diterakan pada situs pnri.go.id, dulunya tanah di Dusun Sambisari ini memang lebih rendah. Namun pasir dan batu yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi pada tahun 1906 membuat Candi Sambisari terkubur dan rata dengan tanah.

Untuk melihat candi lebih dekat, pengunjung harus menuruni tangga yang dilanjutkan dengan memasuki areal yang dipagari batu setinggi 2 meter. Menilik candi utama beralas batu segi empat berukuran 13,65 meter persegi, terdapat sepasang patung naga dengan mulut menganga di tangga masuk menaiki tubuh candi yang menghadap ke arah barat. Pinggiran candi terlihat polos namun jika diperhatikan seksama, terdapat ukiran bermotif mirip batik di sisi luar candi utama.

Masih pada candi utama, setelah menaiki tangga candi, pengunjung akan  melihat tubuh candi hingga kepalanya yang memiliki luas 5 meter persegi. Di sisi luar tubuh candi, ditemukan ukiran berupa arca. Pada dinding selatan terdapat Arca Agastya atau Syiwa Mahaguru, di dinding timur terdapat Arca Ganesha, dan di dinding utara terdapat Arca Durga Mahisasuramardini.

Pada tubuh candi tadi, tepatnya di tengah ruangan berukuran sekitar 4,8 meter persegi terdapat sebuah Lingga lengkap dengan yoninya. Lingga terbuat dari batu berwarna putih, sedangkan yoni di tengah lingga terbuat dari batu berwarna hitam yang sangat keras dan mengkilap. Di sepanjang tepi lingga terdapat alur untuk menampung air persembahan yang dialirkan kecucuran berhiaskan kepala ular. Untuk tiga candi pendamping di depan candi utama tak begitu jelas karena hanya menyerupai bongkahan batu raksasa yang belum menunjukkan bentuk seperti candi utama.

Cagar budaya ini sangat direkomendasikan untuk wisatawan yang bertandang ke Yogyakarta, di samping menyuguhkan wisata sejarah yang memanjakan mata, biaya masuk yang terjangkau dapat turut dijadikan alasan. Bagi Arief Fauzan (26), warga Yogyakarta pun demikian, selain menarik untuk dikunjungi, tak banyak candi seperti ini di Indonesia berhubung terletak di bawah tanah, “Candi seperti ini langka jadi sangat menarik,” ungkapnya. Selain itu menurut Arief, Sambisari masih menyimpan misteri yang urung terkuak.

Keindahan Candi Sambisari ini dapat dinikmati oleh pengunjung dengan biaya masuk hanya Rp2 ribu per kepala. Di samping itu, pengunjung juga dapat mendatangi bagian informasi yang terletak di luar areal candi untuk melihat foto seputar perjalanan hingga rekonstruksi Candi Sambisari. Akses menuju Dusun Sambisari pun terbilang mudah, hanya sekitar 8 kilometer dari Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top