Don't Miss

Hikayat Masjid Kuning

Oleh: Aulia Adam

mesji al osmani(1)Liputan kali ini membawa saya ke sebuah masjid di Jalan Yos Sudarso Kilometer 18, Kecamatan Medan Labuhan, Medan. Namanya Masjid Al-Osmani. Anyar pula disebut Masjid Kuning atau Masjid Labuhan. Tak heran, karena bangunan itu memang didominasi warna kuning yang mencolok. Persis kuning telur.

Adalah Ahmad Fahruni, Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Osmani yang bercerita pada saya tentang sejarahnya. Sebelumnya saya juga sudah diperingatkan beberapa warga, mereka bilang, “Langsung saja ke Pak Fahruni. Kami warga sini sudah sepakat tidak boleh bicara tentang masjid.”

Maka, seraya duduk santai di beranda Masjid, Fahruni menceritakan sebuah hikayat pada saya. Hikayat yang melatarbelakangi Masjid dibangun. Maka, beginilah hikayatnya:

***

Tuanku Sultan Osman Perkasa Alam sedang gundah gulana. Sebabnya, sudah 126 tahun lebih kerajaannya dibangun di Kampung Alai belum punya tempat beribadah. Selama ini, mereka beribadah di sekitar lingkungan istana. Maka saat itu, tepat pada tahun 1854, ia menghubungi kerajaan seberang di Kalimantan untuk memesan kayu-kayu ulin.

Kayu-kayu itu konon tersohor kekuatannya. Warnanya hitam, dan rayap pun tak bisa memakannya. Melalui sungai Deli yang berjarak 200 meter dari Kesultanan Deli, kapal-kapal tongkang membawa kayu-kayu impor itu. Dahulu sungai Deli memiliki luas berkali-kali lipat dari keadaannya sekarang.

Perlu waktu yang cukup lama untuk menstranfer kayu-kayu tersebut. Transportasi air adalah satu-satunya cara tercepat kayu-kayu itu bisa tiba di Kesultanan Deli. Hal tersebut berpengaruh pada lamanya masjid dibangun.

Kayu-kayu itu dijadikan fondasi, disusun sejajar mengikuti tekstur tanah. “Sehingga tidak berpengaruh kalau dilanda gempa,” papar Fahruni dengan dialek Melayu kental. Dengan kayu-kayu yang sama pula, dibuatlah sebuah mimbar.

Akhirnya, dalam hitungan beberapa tahun, sebuah rumah panggung khas melayu berukuran 16×16 meter hadir sebagai tempat beribadah baru tepat di depan istana. Ia diberi nama masjid Al-Osmani sesuai dengan nama penggagasnya, Tuanku Sultan Osman Perkasa Alam.

Tepat 18 tahun setelah dibangun, Sultan Deli ke-VIII Tuanku Sultan Mahmud Perkasa Alam berinisiatif melakukan pemugaran pada bangunan asli masjid. Ia merasa bangunan beribadah tersebut harus lebih megah dan memang perlu diperluas. Maka pada 1870 hingga 1872, ia memanggil arsitek dari Jerman GD Langereis untuk mengonsepkan sebuah bangunan megah.

Kesultanan yang berhubungan baik dengan bangsa Belanda yang menjajah pada masa itu cukup dipermudah untuk mendapatkan bahan-bahan material dari Eropa dan Persia. Langereis menggabungkan berbagai unsur dari beberapa negara ke dalam arsitektural masjid Al-Osmani. Pintu utamanya dibuat dari dua bilah kayu yang diukir dengan ciri khas tiong hoa; relief di seputaran masjid diolah dari liukan-liukan yang biasanya ada di bangunan-bangunan Timur Tengah, India dan Spanyol. Sementara warna bangunan didominasi oleh warna Kuning dan Hijau. “Kuning melambangkan ciri khas budaya Melayu, sementara Hijau melambangkan keislamian suku Melayu. Bahwa, suku Melayu dahulunya adalah identik dengan Islam,” jelas Fahruni.

Langereis pun menambahkan empat pilar utama di setiap sudut masjid berbentuk persegi tersebut. Keempat pilar difilosofikan sebagai empat sifat utama Rasulullah Muhammad SAW. Yakni, Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah. Sama halnya seperti kubah segidelapan yang menjadi puncak di atas masjid ini. “Kalau segidepalan ini masih sama. Masih melambangkan empat utama sifat nama dan empat utama sifat mustahil nabi,” tambah Fahruni. Luas Al-Osmani juga diperlebar menjadi 26×26. Sehingga dapat menampung 500 jamaah lebih.

Konon, campuran bahan material pembangunan masjid tersebut tidak lah biasa. “Kabarnya bahan bangunan ini dicampurkan dengan garam, kapur dan putih telur,” kata Fahruni. “Di beberapa bagian dindingnya memang selalu seperti melepuh-lepuh. Padahal sudah dikikis dan digantikan dengan bahan baru, tapi tetap saja begitu. Mungkin karena bahan-bahan itu, wallahualam.”

Namun, hingga kini Al-Osmani sendiri telah dipugar berkali-kali. Tapi tak banyak yang diganti. Hanya dicat, dikeramik, dan langit-langit kayunya yang diganti plafon. “Maklum lah, kayu kan punya masanya sendiri. Takut pula kita kalau menimpa jemaah,” tambah Fahruni.

Terakhir kali dipugar November 2012 lalu, Al-Osmani dicat ulang dan kembali diperluas menjadi 60×60 meter. Selain lekak-lekuknya yang memang masih dipertahankan, mimbar dari kayu Ulin pun masih berdiri kokoh di samping mihrab, menjadi saksi bisu perjalanan panjang sang masjid pertama di kota Medan.

Pesona Masjid Tertua

Setelah salat lohor di masjid Al-Osmani, Fadhillah Mahmud berniat berziarah ke makam almarmuhah Ibunya. Ia memang tidak membawa apa-apa, tidak seplastik kembang-kembangan, tidak pula sebuah buku Yassin. Ia memang hanya berniat menunaikan salat di Al-Osmani, masjid yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya.

Namun, setelah salat ia  mendadak merasa rindu dengan sang Ibu yang meninggal tiga tahun lalu. Untungnya, makam sang ibu dekat. Masih ada di dalam pelataran masjid Al-Osmani.

Memang, saat tiba di masjid tertua di Medan ini, pandangan Anda akan langsung tertuju pada puluhan makam yang mengelilingi halaman muka dan kanan-kiri masjid tersebut. Beberapa makam terlihat usang dimakan usia, ukurannya pun tak biasa. Misalnya makam Tuanku Sultan Osman Perkasa Alam yang terletak tepat di depan bangunan masjid yang menghadap ke jalan raya.

Di sekitar makam itu ada beberapa makam lainnya yang ukurannya lebih kecil. bahkan nisannya hanyalah onggokan batu lonjong yang dipacakkan tidak terlalu tegak.

Sementara makam-makam lain di kanan dan kirinya adalah tempat persemayaman terakhir beberapa warga sekitar. Salah satunya adalah ibunda dari Fadhillah.

Fahruni menjelaskan, pada dasarnya masjid Al-Osmani memang dibuat untuk melayani masyarakat. Tak hanya menyediakan tempat sebagai pemakaman masyarakat sekitar, Al-Osmani juga biasa digunakan sebagai tempat akad nikah. Tentu selain fungsinya sebagai pusat perayaan hari-hari besar islami untuk kawasan sekitar. Seperti Hari Maulid Nabi, Idul Fitri dan Idul Adha.

Karena usianya yang sudah lebih dari 150 tahun dan memiliki sejarah panjang sejak zaman sultan Deli ke-VII, Masjid Al- Osmani di katagorikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCD) bersifat bangunan pribadatan yang harus dilindungi sesuai Undang –Undang cagar budaya tahun 1992.

Oleh, karena sejarahnya yang panjang dan intim dengan kesultanan Deli di Medan, Fahruni menekankan bahwa sejarah sang masjid hanya bisa dikisahkan oleh BKM Mesjid yang memang langsung dapat perintah dari Sultan Deli Medan kini, Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam. “Hal ini dibuat supaya cerita sejarah masjid ini tak melenceng-lenceng kalau dari banyak pihak. Kita kan harus menjaga keaslian budaya juga,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top