Don't Miss

Kumpulan Puisi “Sederhana” Terbaik Sapardi

Oleh: Fredick Ginting

melipatjarakJudul: Melipat Jarak

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 178

Puisi adalah seni kata dan seni kata tertinggi itu adalah metafora. Inilah makna puisi menurut salah satu pujangga terbaik yang dimiliki Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Metafora yang indah dalam puisinya dikenal tidak rumit untuk dipahami. Sapardi memang menulis puisi dengan “sederhana”, mudah dipahami maksudnya tanpa meninggalkan keindahan metafora ataupun pemilihan kata-katanya.

Memasuki usianya yang ke-75, Sapardi mengeluakan buku berisi kumpulan puisi terbaik yang dipilih sendiri bersama dengan Hasif Amini. Ada sebanyak 75 puisi terpilih disini, sesuai dengan umur Sapardi. Puisi-puisi tersebut diambil dari buku puisi terbitan antara 1998-2015:Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, danBabad Batu.

Salah satu puisi yang diberikan pada pembaca berjudul “Yang Paling Menakjubkan”:

Yang paling menakjubkan di dunia yang fana ini,

Adalah sesuatu yang tidak ada,

Soalnya,

Kita bisa membayangkan apa saja tentangnya,

Menjadikannya muara bagi segala yang luar biasa.

Sementara dalam puisi lain pun Sapardi tetap menulis puisi “sederhana” dengan metafora bermacam-macam, mulai burung, hujan, pohon, bungan dan pagi. Ini contoh lainnya, potongan puisi dari puisinya berjudul “Sajak Tafsir”:

Aku tidak memerlukan bahasa,

Diam bukan batu, mengalir bukan sungai,

Dicangkul bukan sawah, terbang bukan burung, bertahan bukan daun,

Aku tidak, bukan apa pun.

Sebagai pujangga, sejatinya Sapardi sudah menulis ratusan puisi yang sudah dipublikasikan. Ia telah mulai menulis sejak 1957 dan puisinya diterbitkan oleh majalah Gatra untuk pertama kali. Sapardi pun mendapat tempat bagi para penikmat puisi, karena konsistensinya yang menulis puisi dengan “sederhana”. Namun bukan berarti setelah ini Sapardi akan berhenti menulis puisi. Sapardi menjanjikan, “Puisi terbagus belum kutulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*