Don't Miss

Surat Terbuka untuk Pemerintah Indonesia

Oleh: Yacob Nainggolan

images (2)Kepada Yang Terhormat

Bpk Presiden Jokowi,

Bpk Menteri Pendidikan Anies Baswedan,

Bpk Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dan

Ibu Menko Bidang Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani

Suatu kehormatan bagi saya dapat menuliskan surat terbuka ini kepada Bpk/Ibu yang sedang menjabat di tatanan kepemerintahan Republik Indonesia. Salam hormat saya, semoga Bpk/Ibu senantiasa dalam lingkupan-Nya dan tetap bersemangat untuk mengelolah negera ini menjadi negara yang mampuh bersaing di era yang semakin canggih ini.

Bpk/Ibu yang saya cintai, sebagai seorang pelajar saya mengerti betul apa yang dimaksud dengan pendidikan. Saya mengerti betul bagaimana pendidikan berkontribusi besar menghantarkan kita menuju kesuksesan yang kita impi-impikan. Dan saya yakin hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa Bpk/Ibu mencanangkan program sekolah gratis dua belas tahun. Saya dan teman-teman saya telah merasakan program sekolah gratis yang telah dicanangkan oleh pemerintah ini. Namun sekolah gratis tersebut hanya bertahan sampai sembilan tahun saja. Setelah tamat dari SMP teman-teman saya banyak yang putus sekolah, kaum prianya berganti status sebagai buruh tani upah harian. Sedangkan kaum wanita yang tidak sanggup sekolah umumnya akan segera menikah diusianya yang masih belia. Ironisnya tidak jarang dari wanita ini berpasangan dengan pria yang putus sekolah dan menjadi buruh tani upah harian di desa kami. Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh orangtua semuda ini? mereka akan makan apa? Kedua pertanyaan ini mungkin telah terbesit di dalam hati Bpk/Ibu. Sejauh saya menilik keseharian mereka, umumnya mereka akan tinggal untuk beberapa tahun pertama di rumah masing-masing orangtua dari kedua belah pihak setelah itu mereka akan segera merantau ke kampung seberang dengan status pasangan suami-istri yang sangat muda. Padahal faktanya jika diukur dari segi usia, mereka masih digolongkan sebagai remaja SMA yang masih sangat memerlukan bimbingan orangtua.

Bpk/Ibu yang duduk di kursi kepemerintahan, saya yakin betul bahwa kenyataan pahit di atas merupakan hal yang sangat Bpk/Ibu tidak harapkan. Namun, itulah faktanya Pak, itulah kenyataanya Bu. Puji syukur saat ini saya masih dapat belajar di sekolah formal, namun teman saya Bu, sahabat saya Pak, mereka sudah memiliki anak lebih dari satu dalam renggang tahun yang berdekatan antara anak pertama, kedua dan dengan anak selanjutnya.

Bpk/Ibu yang saya cintai. Jangankan lulus sampai SMA, SMP sajapun masyarakat di desa kami banyak yang tidak tamat, meskipun pihak sekolah telah mencanangkan sekolah gratis. Hal ini disebabkan perkembangan jaman di era sekarang ini semakin canggih, disusul dengan penetapan kurikulum baru yang mengharuskan siswa/i-nya dekat dengan media internet membuat orangtua siswa/i di desa saya tidak mampuh menyekolahkan anak-anak mereka meskipun mereka memiliki niat untuk sekolah.

Kepada Bpk/Ibu pemerintah negara yang saya sayangi, berikut saya akan coba tuliskan hitung-hitungan kasar untuk menggapai gelar SMP di desa kami. Di desa kami tidak ada SMP Pak/Bu, sehingga untuk menempuh pendidikan ditingkat SMP teman-teman saya yang di desa harus menyewa kamar (kost) di daerah yang ada SMP-nya, biasayanya harga kamar (kost) di daerah SMP di daerah saya masih murah yakni sekitar Rp 50.000,-/bulan-nya. Selain biaya kamar, tentunya mereka harus membayar uang makan. Umumnya pengeluaran untuk biaya makan ini berkisar Rp 300.000,-/bulan. Tidak berhenti sampai disitu, meskipun berlabel bersekolah di SMP gratis, orangtua tetap saja harus membeli perlengkapan sekolah anak-anaknya, mulai dari seragam, sepatu, buku, tali pinggang, dan beberapa keperluan lainnya. Jika ditotal harga keseluruhan barang-barang keperluan ini semurah-murahnya berkisar Rp 500.000,-/periode. Sebagai anak sekolah yang baru lulus SD, tentunya kebiasaan uang jajan (uang saku) masih belum lepas dari mereka. Biasanya orangtua akan menaikan uang jajan buat anak SMP. Rata-rata uang jajan anak SMP di desa saya berkisar Rp 1.000,-/hari. Jika ditotal dalam kurung waktu satu bulan, maka pengeluaran untuk uang jajan ini bernilai Rp 30.000/bulan (jika satu bulan = tiga puluh hari). Dari data-data pengeluaran di atas jika ditotal berjumlah Rp 880.000. Itu masih pengeluaran kasar, belum lagi jika sianak minta dibelikan telepon seluler untuk membantunya belajar atau biaya pengeluaran tambahan untuk beli pulsa dan lain sebagainya. Dan satu lagi, pengeluaran itu hanya untuk satu orang anak, bagaimana dengan orangtua yang memiliki lebih dari satu anak? Padahal penghasilan umum bagi orangtua yang tidak mampuh di daerah kami hanya dihargai Rp 40.000 – Rp 50.000,-/hari. Dalam satu bulan, jika suami dan istri sama-sama bekerja maka pendapatan mereka hanya berkisar Rp 2.400.000 – Rp 3.000.000,-/bulan. Lalu apakah Bpk/Ibu masih tetap berharap bahwa program wajib belajar dua belas tahun ini akan berjalan dengan baik? Jika jawaban-nya “ragu-ragu”, saya tetap menyemangati Bpk/Ibu untuk tetap menjalankan program terencana ini. Namun jika jawabannya “program ini pasti berjalan dengan baik”, maka seperti pendahulu mereka, masyarakat yang kurang mampu di daereh kami hanya akan bergelar SD araupun SMP.

Bpk/Ibu yang sangat kami sayangi. Bagi mereka, orangtua kami, hujan maupun terik mereka tahankan untuk mendukung cita-cita kami. Tapi, inilah kenyataan pahitnya Pak, inilah kisah nyatanya Bu. Mereka tidak bisa berbuat banyak, bekerja habis-habisan sebagai seorang buruh harian tidak cukup untuk membayar biaya pendidikan kami. Melalui surat ini saya ingin menyampaikan permohonan yang sedalam-dalamnya kepada Bpk/Ibu di kursi pemerintahan. Bantulah kami Pak, bantulah kami Bu. Sekolahkan kami minimal sampai SMA.

Memang benar Pak/Bu bahwa kami membutuhkan sekolah gratis, tapi nyatanya sekolah gratis juga belum mampuh membantu kami anak desa yang tidak mampuh ini untuk menembus pendidikan di tingkat SMA. Kami membutuhkan gedung sekolah negeri yang mudah dijangkau dari segi jarak maupun biaya Pak/Bu. Kami sangat membutuhkan uluran tangan Bpk Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia, bantulah kami Pak. Kami juga sangat membutuhkan perhatian ekstra dari Bpk Anies Baswedan selaku menteri pendidikan, perhatikanlah kami Pak. Kami juga sangat membutuhkan penanganan dalam bentuk fisik dari Bpk Lukman Hakim Saifudin selaku menteri agama kasihanilah kami Pak. Kami juga sangat berharap tindak lanjut mengenai masalah kami ini dari Ibu Puan Maharani selaku Menko Bidang Manusia dan Kebudayaan, semoga Ibu membaca surat ini dan tergerak untuk menopang kami Buk. Dan kepada seluruh pemerintah negara di negeri ini, saya memohon ayomilah kami, bantu lah kami, saya yakin kami juga bagian dari penerus bangsa ini. Permohonan ini saya ajukan karena kami juga memiliki cita-cita yang sangat ingin diwujudkan Pak/Bu. Kami juga ingin merasakan senangnya bekerja menggunakan kemeja Pak, kami juga ingin merasakan memiliki karir bagus Bu. Sekali lagi bantulah kami Pak, bantulah kami Bu. Sekolahkan kami minimal sampai SMA!

Dari seorang pelajar yang pernah merasakan program gratis sekolah sembilan tahun yang prihatin dengan teman-temannya yang kurang mampuh yang harus putus sekolah sebelum tamat SMA.

 

2 comments

  1. Wow… Thanks for publishing my artikel. Mohon maaf atas beberapa kata yang “typo”. Sebab artikel ini saya tulis hanya 1 malam (tuntutan deadline lomba yg tinggal 1 hari lagi). 🙂 Once again, thanks for publication xpresi.co v:

    • Your comment is awaiting moderation.
      Wow… Thanks for publishing my article. Mohon maaf atas beberapa kata yang “typo”. Sebab artikel ini saya tulis hanya 1 malam (tuntutan deadline lomba yg tinggal 1 hari lagi). 🙂 Once again, thanks for publication xpresi.co v:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*